Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan

Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi [1] ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini. Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka...

Renungan Untuk Wanita Berhijab Tapi Seperti Tidak Berpakaian

..para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.

Kisah Motivasi Solat Ashar

Sang istri pun terdiam. Kalimat itu mengena di hati. Tiba-tiba air matanya kini berbicara. "Iya. Maafkan aku. Engkau benar." "Bukan kepadaku. Mintalah ampun kepada Allah. Jangan diulangi lagi ya. Aku tak inginkan apapun kecuali kebersamaan kita di surga sambil menatap wajah Allah yang Mulia."

Kamis, 06 Agustus 2015

Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan



Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi [1] ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.
Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka,
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya.“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”
Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah[2], tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”
Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.
Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya.
Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?”tanya Ulama itu.
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, "bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana
ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis Ya allah aku rindu Mekah, Ya Allah aku rindu melihat kabah
Ijinkan aku datang…..
ijinkan aku datang ya Allah..
Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.
“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”
Sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh.
Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.
Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.
Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan “tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil
berlinang mata.
Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.
Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim? Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan.
Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.
Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.”
Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.
“Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya"...

sumber

Selasa, 04 Agustus 2015

Renungan Untuk Wanita Berhijab Tapi Seperti Tidak Berpakaian


“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat :
[1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan
[2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring.
Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
---------------------------------------------------------
Kalau Tersinggung, cuma mengingatkan.
TAK TAU MALU
Itulah fenomena tanda tanda akhir zaman yang makin nyata sekarang ini
Tak ada rasa malu,
tak ada rasa berdosa.
Semuanya berjalan nampak biasa saja.

Mengaku Islam agamanya.
Mengaku Allah adalah tuhannya.
Mengaku Al-Qur’an pedoman hidupnya.
Mengaku Muhammad adalah nabinya.

Tapi sayang pengakuan imannya hanya berhenti di lisan semata.
Tak sampai pada dinding hatinya terlebih ruang hati terdalam.
Tak nampak dari perbuatannya yang ada justru prilaku seperti tak ber-Tuhan.
Miris melihat insan bernama wanita.

Berjalan berlenggok dengan aurat terbuka.
Cengar – cengir mempertontonkan tubuh mengundang syahwat durjana.
Mengadu tubuh seksi antara satu dan lainnya.
Semakin kecil pakaian semakin seksi katanya

semakin sempit semakin aduhai katanya
semakin ketat semakin sempurna katanya
Bangga sama tubuhnya
tapi dikufuri dengan mengumbarnya kemana-mana.
Dinasehati malah nyinyir “jangan sok suci”.
Pakaian tak masalah katanya yang penting hati..

Katanya mau ke Syurga tapi merasa benar sendiri..
padahal, di syurga tak ada wanita seperti ini.
Boro-boro ke syurga,
mencium wanginya saja tak bisa dinikmati.

Ada juga wanita dengan kerudung modis
Kerudung berjambul kayak punuk onta. Sadis!
Berkerudung Sesuai syariat katanya, bikin miris
Jilbab panjang dikatakan kuno gak necis.
Begini, Jilbab sesuai tuntunan jaman. Tragis!

Beribadah itu butuh ilmu
Gak asal pake dengan tafsir sendiri
Dikasih tau sama yang faham, belagu
Tetap pilih punuk onta katanya biar percaya diri
Begitulah fenomena jaman sekarang

Iman tergerus dengan barang dagangan
Yang penting keren ikut ke barat-baratan
Udah lupa ama perintah Tuhan.
Maksiat terbentang jadi biasa

Yang nentang malah dibilang Islam-Islaman
Dituduh Islam Aliran Begitulah,
Yang salah dibenarkan
Yang benar disalahkan
Namun tak sedikit yang tetap bertahan

Pada ajaran yang tertuang dalam Al-qur’an
Berpakaian iman, berjilbab panjang
Meski kadang datang cibiran
“ih, itu Islam apaan??”

Astagfirullah….
Ya Allah, Ampunilah semua dosa-dosa kami, baik sengaja atau pun tidak, berkahilah kami, ramahtilah kami, berikanlah kami hidayah-Mu agar kami senantiasa dekat kepada-Mu hingga akhir hayat.

Sumber 

Kisah Motivasi Solat Ashar

Shalat merupakan salah satu kewajiban bagi kaum muslimin yang sudah mukallaf dan harus dikerjakan baik bagi mukimin maupun dalam perjalanan. Shalat merupakan rukun Islam kedua setelah syahadat. Islam didirikan atas lima sendi (tiang) salah satunya adalah shalat, sehingga barang siapa mendirikan shalat ,maka ia mendirikan agama (Islam), dan barang siapa meninggalkan shalat,maka ia meruntuhkan agama (Islam).

Inilah dia kisah suami istri muslim yang mengingatkan shalat ashar tidak boleh ditunda walaupun dalam keadaan lelah. Bagaimana kisahnya? Mari kita simak percakapan berikut:

"Apa kamu udah shalat Ashar, istriku?" Tanya sang suami.
"Belum" Jawab istrinya.
"Kenapa?"
"Aku baru pulang kerja. Capek banget. Aku tadi tidur sebentar."
"Oke. Kalau begitu, sekarang wudhu terus shalat ya. Sebelum datang waktu maghrib."

Di hari selanjutnya, sang suami pergi ke luar kota untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Setibanya di tempat tujuan, ia tidak mengabarkan istrinya bahwa ia telah tiba dengan selamat tepat waktu.

Karena itu, sang istri begitu khawatir dan cemas. Ini kali pertama suaminya itu tak memberi kabar. Tak seperti biasa. Adakah yang terjadi di perjalanan? Atau suaminya tak lagi peduli? Atau ia sedang jalan dengan mawar lain yang lebih harum dan jelita?

Ia putuskan untuk menghubungi suaminya agar hatinya tenang dan memastikan bahwa suaminya tiba dengan selamat. Tak ada jawaban. Dia mengulang-ulang panggilan. Tetap tak ada jawaban. Semakin ia gelisah. Semakin ia gundah.

Berjam-jam menunggu. Akhirnya sang suami menghubunginya.
"Hei, apa kamu sudah tiba dengan selamat, suamiku?" Ia segera bertanya setelah teleponnya berdering.

"Iya. Aku telah tiba dengan selamat. Alhmdulillah."
"Tadi tiba jam berapa?"
"Kira-kira 4 jam yang lalu."
"Empat jam yang lalu? Terus kenapa tidak hubungi?" Tanya istri dengan nada marah.
"Tadi aku capek banget. Aku tidur sebentar."
"Tak adakah waktu walau barang sedetik saja engkau ajak aku bicara? Apa kau tak dengar handphone berdering ketika kuhubungi?"
"Aku dengar kok."
"Terus kenapa tidak diangkat? Apa tak peduli lagi denganku?"
"Tentu saja aku peduli. Kemarin, engkau juga tak peduli dengan suara adzan, panggilan Allah."

Sang istri pun terdiam. Kalimat itu mengena di hati. Tiba-tiba air matanya kini berbicara.
"Iya. Maafkan aku. Engkau benar."
"Bukan kepadaku. Mintalah ampun kepada Allah. Jangan diulangi lagi ya. Aku tak inginkan apapun kecuali kebersamaan kita di surga sambil menatap wajah Allah yang Mulia."

Hatinya pun meleleh mendengar ungkapan sang suami. Hari-hari berlalu dan sang istri pun tak pernah meninggalkan kewajibannya.
----
(209) Diterjemahkan dan diadaptasi dari page Khash li al-Mutazawwijin.

(Sumber fb)